Tri Purnasari

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

Petualangan Si Momo

Petualangan Si Momo

Penulis: Tri Purnasari, S.Pd.AUD

Di sebuah hutan yang dipenuhi pepohonan, tinggallah sekelompok monyet yang sedang asyik bermain. Di antara mereka ada seekor monyet yang lebih besar, namanya Momo. Momo adalah seekor monyet yang lincah. Tapi sayang, Momo seekor monyet yang sombong. Ia selalu menyombongkan diri tentang kelincahannya dalam melompat-lompat di atas pohon. Kadang-kadang ia juga mengejek teman-temannya yang lebih kecil dari dirinya.

“Teman-teman, lihat aku bisa menari dengan lincah di atas pohon!” Seru Momo. “Dan aku melakukannya tanpa jatuh, hihihi.” Lanjut Momo.

“Hati-hati Momo, dahannya licin. Kan tadi malam hujan.” Temannya memperingatkan Momo.

“Tenang saja, aku hebat melakukannya. Kalian pasti tidak bisa. Di hutan ini hanya aku yang paling lincah, hihihi.” Momo mulai menyombongkan dirinya.

“Momo kamu tidak boleh berkata seperti itu. Suatu saat kamu akan tahu bahwa di luar sana banyak yang lebih hebat dari kamu.” Kata temannya.

“Ah, kalian hanya iri dengan ku karena kalian tidak bisa seperti aku. Lalalalalala........aku Momo si Penari yang hebat.”

Momo mulai menari dan menyanyi. Ia melompat dari satu dahan ke dahan yang lain tanpa menghiraukan nasehat teman-temannya. Melompat, menari, melompat, menari, melompat, hingga akhinya........

“Waaaaa.......!!! Pegangan Momo terlepas karena dahannya sangat licin.

“Byuuur!!! Momo tercebur ke sungai yang sangat deras.

“Tolong....tolong....tolong!!! Momo berteriak ketakutan.

Sungai yang deras membawa Momo semakin jauh. Hingga akhirnya ia tersangkut sebuah akar pohon. Momo pun tiba di sebuah hutan yang tidak dikenalnya. Dengan tubuh yang lemas dan napas terengah-engah, Momo melihat ke sekelilingnya.

“Duh, dimana ya aku? Bagaimana aku pulang?” Momo kebingungan.

“Lebih baik aku mencoba berjalan saja, tapi arah mana ya? Ah, pasti ke sana.”

Momo pun perlahan mulai berjalan untuk pulang. Di tengah jalan, tiba-tiba.....Braak!! Sebuah dahan besar jatuh menimpa tubuh Momo. Dengan menahan sakit Momo berteriak minta tolong.

“Tolong.....tolong.....tolong!!! Berkali-kali Momo berteriak dengan harapan ada yang mendengarnya.

Bum...bum..bum....Tanah terasa bergetar karena kedatangan seekor gajah yang besar badannya.

“Halo, apa yang kamu lakukan di sini? Wah, wah, dahan besar menimpa tubuhmu ya?” kata gajah.

“Hik..hik...Iya, tolong aku Tuan gajah. Tubuh ku terlalu kecil sehingga aku tidak bisa berdiri.”

“Ya..ya, sini aku bantu. Badan ku memang besar dan kuat.” Kata gajah.

Satu, dua, tiga.....hoplaa!!!

Akhirnya gajah berhasil mengangkat dahan besar tadi dari tubuh Momo.

“oh...oh..terimakasih Tuan gajah. Kamu menyelamatkan hidupku. Untung saja badanmu besar, jadi bisa menolongku”. Ucap Momo dengan gembira.

“Ya..ya..Aku kan banyak makan, jadi badanku besar dan kuat. Kamu juga harus banyak makan terutama makanan yang bergizi”. Kata gajah.

“Oh...jadi kamu kuat karena banyak makan ya? Aku janji deh nanti banyak makan supaya badanku sehat”. Janji Momo.

“Kamu mau kemana?” tanya gajah.

“Aku mau pulang ke rumah tadi aku tersesat. Baiklah, aku mau melanjutkan perjalananku. Terima kasih Tuan gajah!” Kata Momo.

Momo pun melanjutkan perjalanannya.

Bzzzzzzzzzz.......bzzzzz.......bzzzzzzzzzzzzz..............

“Suara apa itu?” Bzzzzzzzzzzzz...........bzzzzzzzz.......bzzzzzzz

“ Hai, kalian siapa? Apa yang sedang kalian lakukan?” Momo kebingungan.

“Kami lebah, kami sedang mengisap sari bunga.” jawab lebah.

“Wah...wah..memang enak ya?

“Iya, sari bunga ini nanti akan jadi madu yang maniiiiis sekali. Kalau kamu minum madu ini tubuh kamu jadi sehat dan kuat.” Kata lebah.

“Oya, kebetulan aku sedang haus. Boleh aku minta madunya?” Pinta Momo

“Boleh, tapi sedikit saja ya. Ini untuk persediaan kami.”

“Nyam...nyam...memang manis dan lezat ya. Haus ku jadi hilang. Terima kasih teman.”

Akhirnya Momo kembali berjalan.

Di tengah jalan Momo merasa sangat lelah, Ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba...........

“Aduh.....aduh......!!!!!!!” Momo berteriak kesakitan.

Oh, ternyata Momo digigit oleh binatang kecil berwarna merah.

“Hei, ayo pergi kamu dari situ. Kamu sudah menghancurkan rumah kami.” Teriak binatang itu.

“Aduh....kalian siapa? Sakit sekali menggigitku. Apa kalian bilang? Menghancurkan rumah kalian? Aku kan hanya duduk di sini?” Kata Momo.

“ Tuh, yang kamu duduki itu rumah kami. Kami semut merah baru saja membangun rumah.”

“Oh..oh...maaf semut merah. Aku tidak tahu ini rumah kalian. Wah....wah...kelihatannya kalian sibuk sekali.”

“Iya, kami saling membantu membangun rumah. Kalau tidak seperti itu rumah kami tidak akan selesai.”

Momo teringat dengan teman-temannya. Ia merasa sedih jauh dari rumah dan teman-temannya yang selama ini selalu diejeknya.

“Ada apa? Kamu kelihatan sedih?” Tanya semut merah.

“Sebenarnya aku tersesat dan mau pulang ke rumah. Aku sedih karena ingat dengan teman-temanku. Selama ini........aku bersikap tidak baik kepada mereka. Aku menyesal.” Momo mulai menangis.

“Oh ya...sepertinya kamu harus minta maaf. Dalam berteman kita harus saling membantu. Lihat saja rumah kami, karena kami bekerja sama maka kami bisa membangun rumah dengan cepat.” Nasehat si semut merah.

“Iya, kalian benar. Aku harus cepat-cepat pulang ke rumah dan menemui teman-temanku untuk minta maaf!” seru Momo.

“Hati-hati di jalan, sepertinya hari sudah senja.” Kata semut merah.

Wah, benar. Pikir Momo.

Momo pun berjalan dengan cepat. Tampak hari mulai gelap, bulan dan bintang bersinar dengan terang. Baru beberapa langkah Momo mulai cemas dan akhirnya menangis.

“Huuu....hhuuuu........huuuuuuu......!!! Bagaimana aku bisa pulang kalau mataku tidak bisa melihat jalan?” Ratap Momo. Ternyata Momo kesulitan melihat di waktu malam hari.

“Huu...huuuu....seandainya ada yang mau menolongku untuk menunjukkan jalan.” Momo berharap sambil menangis.

“Hai, apa yang kamu lakukan malam-malam begini?” Hati-hati lho, banyak binatang buas.” Seru binatang lucu si telinga panjang.

“Oohh....kamu siapa? Aku tersesat dan mataku kabur tidak bisa melihat di waktu gelap. Bisa kah kamu menolongku?” Tanya Momo.

“Aku si kelinci. Sini pegang tanganku, akan kutunjukkan jalan pulang. Nyamm...nyamm...”

“Terima kasih kelinci. Kamu makan apa? Sepertinya nikmat sekali kamu makan.” Momo merasa lapar.

“Oh, aku makan wortel. Kamu mau? Ini sehat lho, banyak vitaminnya, terutama vitamin A. Nah, jika kamu rajin makan wortel maka mata kamu tidak kabur lagi, kamu bisa melihat di waktu gelap.” Kelinci menjelaskan dengan antusias.

“Oh ya, pantas saja selama ini aku tidak suka wortel, jadi mataku tidak sehat ya. Mulai sekarang aku harus rajin makan wortel. Ayo, tunjukkan aku jalan pulang ya kelinci?”

Momo dan kelinci pun berjalan beriringan. Si kelinci sebagai penunjuk jalan berjalan di depan.

Akhirnya tibalah Momo di rumahnya. Ia sangat terkejut ternyata teman-temannya sudah menunggu di depan rumah. Dengan terharu Momo berlari memeluk teman-temannya.

“Momo, kami sangat mencemaskanmu. Kami berusaha mencarimu. Kami kira kamu sudah............” Tangis teman-temannya.

“Kalian mencariku? Oh, aku mengalami petualangan yang menakjubkan teman-teman. Nanti akan kuceritakan petualanganku itu.”

“Benarkah? Tapi sepertinya kamu harus istirahat dulu Momo.”

“Iya.....Hmmm....hmmm....teman-teman, aku mau minta maaf kepada kalian. Selama ini sikap ku tidak baik kepada kalian, aku terlalu menyombongkan diri dan sering mengejek kalian. Tapi walaupun begitu kalian sangat baik kepada ku. Aku malu teman-teman. Maafkan aku ya? Mulai sekarang aku akan jadi Momo yang baik hati.” Momo tampak sangat menyesal.

“Momo, kami sudah memaafkanmu. Bersahabat lebih baikkan?” Ucap teman-teman Momo dengan gembira.

“Terima kasih teman-teman. Oya, dan satu lagi mulai sekarang kita harus makan-makanan bergizi supaya badan kita besar dan kuat dan mata kita sehat seperti kawan-kawan yang ku temui dalam perjalanan pulang. Pokoknya seru sekali petualangan ku teman-teman.” Kata Momo.

Akhirnya Momo bersahabat dengan teman-temannya. Ia berjanji akan menjadi Momo yang baik hati dan suka menolong.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali